Logo

EN | ID

Simposium Konservasi Hutan Jepang–Indonesia 2026: Menuju Rantai Pasok Bebas Deforestasi

Indonesia adalah kawasan hutan tropis terbesar ketiga di dunia dan dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Konservasi hutan Indonesia memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya bagi upaya global dalam mengatasi perubahan iklim, tetapi juga bagi pelestarian keanekaragaman hayati. Namun demikian, laju deforestasi yang cepat masih terus berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Selama beberapa dekade, Jepang telah menjadi salah satu pasar utama bagi berbagai komoditas berbasis hutan dari Indonesia, termasuk kayu, minyak sawit, serta produk pulp dan kertas. Dalam beberapa tahun terakhir, impor pelet kayu sebagai bahan bakar pembangkit energi terbarukan juga meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa Jepang masih terus bergantung pada sumber daya hutan Indonesia.

Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) © HUTAN Group

Menanggapi situasi tersebut, Auriga Nusantara bersama organisasi masyarakat sipil Jepang (Global Environmental Forum - GEF, Japan Tropical Forest Action Network - JATAN dan Rainforest Action Network - RAN) bekerja sama dengan sejumlah organisasi lainnya menyelenggarakan sebuah simposium sebagai wadah dialog multi pemangku kepentingan. Simposium ini mempertemukan organisasi masyarakat sipil dan para peneliti yang aktif melakukan riset lapangan serta advokasi kebijakan terkait deforestasi dan konservasi hutan di Indonesia, dengan perusahaan dan investor Jepang yang berkomitmen mewujudkan rantai pasok bebas deforestasi.

Kuskus beruang (Ailurops ursinus©Taishi Takahashi/GEF.


Dalam setiap sesi, para pembicara akan memaparkan informasi terkini mengenai deforestasi, risiko terhadap keanekaragaman hayati, serta dampak terhadap masyarakat lokal yang berkaitan dengan produksi berbagai komoditas berbasis hutan. Diskusi juga akan membahas berbagai langkah yang diperlukan untuk mengatasi tantangan tersebut, sekaligus mengeksplorasi peluang kolaborasi guna mendorong upaya konservasi hutan dan keanekaragaman hayati yang lebih efektif. Melalui simposium ini, para peserta diharapkan dapat bersama-sama merumuskan jalan menuju masa depan yang nature-positive—masa depan yang mendukung pemulihan alam tanpa mendorong hilangnya hutan tropis.
Hari 1

10:00–13:15 | Sesi 1: Pulp dan Kertas

Pembicara
Deforestasi di Indonesia: Situasi Terkini dan Faktor Pendorongnya (tentatif)
(Komisioner Komnas HAM Republik Indonesia)

Sekitar 30% kertas yang digunakan di Jepang diproduksi di Indonesia. Dalam sesi ini, organisasi masyarakat sipil dan para peneliti dari Indonesia akan memaparkan berbagai persoalan lingkungan dan sosial yang berkaitan dengan produksi pulp dan kertas, termasuk deforestasi hutan tropis, pengembangan lahan gambut, serta pelanggaran hak-hak Masyarakat Adat dan komunitas lokal. Perwakilan organisasi non-pemerintah dari Jepang akan berbagi pengalaman mengenai upaya pelibatan perusahaan, sekaligus memaparkan praktik terkini serta contoh dari kalangan pengguna kertas di Jepang. Melalui perspektif dari negara produsen maupun negara konsumen, sesi ini akan membahas langkah-langkah yang diperlukan untuk mendorong pengadaan produk kertas yang bertanggung jawab.
Moderator Toyoyuki Kawakami (Rainforest Action Network)
Komentator 
Pembicara
  • (HaKI/Our Forest Institute)
  • (JATAN/Japan Tropical Forest Action Network)
  • (WWF Indonesia)
  • (Ajinomoto Co.)
14:30–17:00 | Sesi 2: Minyak Sawit
Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia, dengan jutaan hektare hutan tropis yang telah dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Meskipun berbagai inisiatif keberlanjutan telah berkembang, dampak lingkungan dan sosial akibat ekspansi perkebunan masih menjadi tantangan yang signifikan. Dalam sesi ini, organisasi masyarakat sipil dari Indonesia akan menyampaikan perkembangan terbaru mengenai dampak lingkungan dan sosial dari pengembangan perkebunan kelapa sawit. Organisasi non-pemerintah dari Jepang akan memaparkan kondisi terkini serta tantangan dalam penerapan pengadaan minyak sawit yang bertanggung jawab oleh perusahaan-perusahaan Jepang, berdasarkan lebih dari satu dekade penelitian survei dan keterlibatan dengan sektor korporasi. Perwakilan perusahaan yang tengah mengembangkan dan menerapkan kebijakan NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation), bersama para investor yang secara aktif mendorong perusahaan untuk menerapkan praktik tersebut, akan berbagi pengalaman, perspektif, dan pendekatan mereka. Sesi ini akan mengeksplorasi berbagai upaya menuju rantai pasok yang bebas dari deforestasi.
Moderator Daisuke Naito (Graduate School of Agriculture, Kyoto University)
Komentator Hidemi Tomita (Institute for Sustainability Management)
Pembicara
  • (Resona Asset Management)
  • (Japan Tropical Forest Action Network)
  • Perwakilan perusahaan Jepang pengguna minyak sawit (TBC)
  • (TRASE)
  • (Asosiasi Kabupaten Lestari - LTKL)

Hari ke-2
10:00–12:30 (TBD) | Sesi 3: Biomassa
Di Jepang, pembangkit listrik biomassa dipromosikan dan disubsidi sebagai salah satu bentuk energi terbarukan. Seiring dengan itu, impor bahan bakar biomassa dari Indonesia meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Di berbagai wilayah penghasil bahan bakar tersebut, kawasan hutan telah dibabat dalam skala luas, mengakibatkan hilangnya ekosistem penting yang menjadi habitat bagi berbagai spesies langka dan endemik. Dalam sesi ini, organisasi masyarakat sipil dan para peneliti dari Indonesia akan memaparkan perkembangan tersebut beserta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Di sisi lain, dengan semakin besarnya perhatian terhadap aspek keberlanjutan kerangka kebijakan Jepang dalam mendukung pembangkit listrik biomassa terus berkembang. Pembuat kebijakan dan lembaga keuangan yang telah membiayai proyek-proyek pembangkit listrik biomassa akan berbagi pandangan mengenai tantangan yang dihadapi, pemahaman mereka terhadap berbagai isu yang muncul, serta upaya yang telah dan sedang dilakukan untuk mengatasinya. Melalui diskusi dari berbagai perspektif, sesi ini akan mengkaji apakah pengembangan pembangkit listrik biomassa yang berkelanjutan dapat berjalan selaras dengan upaya konservasi hutan dan keanekaragaman hayati.
Moderator Miyuki Tomari (Biomass Industrial Society Network)
Komentator (Universitas Muhammadiyah Gorontalo)
Pembicara
  • (Sumitomo Mitsui Trust Group)
  • Perwakilan instansi pemerintah Jepang yang membidangi biomassa atau anggota komite terkait (TBC)
  • (Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam - JAPESDA Gorontalo)
  • (Auriga Nusantara)
14:00–17:00 (TBD) | Sesi 4: Konservasi
Hutan tropis Indonesia terus mengalami penyusutan akibat produksi berbagai komoditas seperti minyak sawit, pulp dan kertas, serta bahan bakar biomassa. Apakah rantai pasok yang bebas dari deforestasi dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara negara produsen dan negara konsumen? Sesi ini akan mengulas tiga contoh dari Indonesia yang menunjukkan bagaimana perusahaan, instansi pemerintah, dan masyarakat lokal bekerja sama dalam berbagai kegiatan, seperti perencanaan bersama, pemantauan, dan konservasi berbasis bentang alam (landscape-scale conservation), yang telah menghasilkan capaian nyata dalam perlindungan hutan. Melalui berbagai contoh tersebut, sesi ini akan mengeksplorasi faktor-faktor kunci yang diperlukan untuk mewujudkan upaya konservasi yang efektif. Selain itu, diskusi juga akan membahas peran kebijakan pengadaan serta keterlibatan perusahaan-perusahaan Jepang sebagai pembeli, sekaligus mengkaji potensi pendekatan multi pemangku kepentingan dalam mendukung rantai pasok yang tidak berkontribusi terhadap deforestasi hutan tropis.
Moderator Tetsuji Ida (Kyodo News)
Komentator (Universitas Indonesia)
Pembicara
  • (Forum Konservasi Leuser - FKL)
  • (HUTAN Group)
  • Perwakilan perusahaan Jepang yang terlibat dalam upaya konservasi (TBC)
  • (Conservation Action Network Borneo - CAN Borneo)

Penutup Naoki Adachi (Response Ability Inc.)

PENYELENGGARA

Bekerja sama
Kontak
Sayoko Iinuma & Katsuhiro Suzushima (GEF) event@gef.or.jp 
Anggia Dian Mayana (Auriga Nusantara) diplomacy@auriga.or.id