Logo

EN | ID

Dialog Multi Pihak: Memperkuat Tata Kelola Keuangan Berkelanjutan Pada Rantai Pasok Sawit Indonesia–China

Seiring meningkatnya permintaan pasar China terhadap sawit berkelanjutan, kesenjangan antara standar keuangan hijau Indonesia dan China menciptakan hambatan bagi perbankan serta berisiko membuat pekebun swadaya dalam rantai pasok sawit terabaikan. Auriga Nusantara dan Give to Nature mengumpulkan regulator, lembaga keuangan, dan pakar industri di Jakarta untuk membahas bagaimana data sawit berkelanjutan Indonesia dapat mendukung penguatan kerjasama pembiayaan hijau Indonesia-China.

Jakarta, 7 Juli 2026 – Auriga Nusantara mengadakan dialog multipihak yang bertajuk Memperkuat Tata Kelola Keuangan Berkelanjutan pada Rantai Pasok Sawit Indonesia – China. Dialog ini digagas guna merespons perkembangan hubungan dagang antara Indonesia dan China di sektor perkebunan. Mengingat China merupakan salah satu pangsa utama ekspor minyak sawit Indonesia. Sektor ini harus dibarengi dengan tata kelola keuangan yang kuat dan berintegritas (sustainable finance); apalagi mengingat di Indonesia terdapat kerangka kerja berupa Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kalkulator Hijau Bank Indonesia sebagai alat bantu untuk pengukuran emisi gas rumah kaca yang menghitung, memantau, dan melaporkan jejak emisi karbon dari adanya aktivitas ekonomi.

Meskipun sudah terdapat kerangka kerja dan jumlah perdagangan yang luar biasa US$ 22,76 miliar (ekspor non-migas ke China), masih terdapat ketiadaan titik temu (interoperability) antara standar domestik dan internasional yang menciptakan hambatan struktural bagi perbankan, baik dalam melakukan uji tuntas (due diligence) maupun dalam menyalurkan portofolio kredit hijau. China misalnya, mengembangkan standar keuangan hijaunya sendiri, seperti Green Bond Endorsed Project Catalogue. Alhasil, terdapat kesenjangan taksonomi lintas batas (cross-border taxonomy) sehingga sektor sumber daya alam berkelanjutan dari Indonesia belum sepenuhnya selaras dan terakomodasi dalam kerangka keuangan berkelanjutan. Atas dasar kondisi ini, Auriga Nusantara bersama Give to Nature menyelenggarakan high level discussion yang dirancang sebagai dialog kebijakan lintas lembaga dan pemangku kepentingan untuk menghasilkan langkah konkret memperkuat tata kelola keuangan berkelanjutan.

“Kami melihat adanya kecenderungan pasar China untuk mencari sumber-sumber sawit yang berkelanjutan. Kami melihat dialog ini menjadi forum yang menjembatani para stakeholders.” – Timer Manurung, Ketua Auriga Nusantara

Dialog ini pada dasarnya merupakan kelanjutan terstruktur dari pertemuan Xiamen, April 2026 dan bertujuan untuk menyajikan hasil kajian sebagai basis faktual untuk memperkuat dan mengisi celah standar pembiayaan berkelanjutan yang telah dikembangkan di Indonesia dan membangun pemahaman bersama tentang risiko regulasi dan peluang sustainable finance lintas yurisdiksi, terutama Indonesia – China. Apalagi berdasarkan kajian-kajian yang dilakukan oleh Auriga Nusantara dan Give to Nature (G2N) dan kajian International Institute of Green Finance (IIGF); terdapat 9.348 transaksi dengan nilai USD 484 miliar (setara Rp 8.635 triliun) pada 2015–2024, sementara terdapat 5,34 juta hektare tutupan hutan yang dikonversi menjadi kebun sawit pada 1990–2024. Menariknya, meski tren deforestasi oleh sawit cenderung menurun, tingkat produksi sawit justru meningkat. Studi IIGF menemukan hanya 9,6% produk minyak sawit di pasar China yang bersertifikat RSPO, dan uji tuntas lingkungan yang dilakukan di tingkat konsesi masih terbatas bagi lembaga keuangan yang memiliki eksposur terhadap minyak sawit Indonesia.

“Tanpa adanya harmonisasi, bisa saja pekebun swadaya (smallholders) dalam rantai pasok sawit ini terabaikan.” – Jingwei Zhang, Co-Founder G2N

Pada dialog ini, Auriga Nusantara turut mengundang berbagai stakeholder antara lain TRASE, International Institute of Green Finance (IIGF), China Customs Brokers Association, RSPO Indonesia, Bank Indonesia, Climate Policy Initiative Indonesia, dan ADM Capital’s Impact Director sebagai narasumber. Kehadiran para pakar dan otoritas ini diharapkan mampu merumuskan solusi konkret, memperkuat sinergi regulasi, serta mendorong terciptanya standarisasi tata kelola keuangan hijau yang harmonis demi masa depan rantai pasok sawit yang berkelanjutan antara Indonesia dan China.